Travel

Traveling ke Sumba Bikin Ga Bisa Move On #Part 1

SUMBA IS HEAVEN!

Ada yang inget itu dialog di film apa?

Buat yang pernah nonton film Susah Sinyal, pasti tau dialog ini. Yup! Bener banget, Sumba itu bener-bener surga sodara-sodara. Alamnya cantik banget, foto di mana aja jatohnya cakep. Instagramable banget. Singkatnya saya jatuh cinta dengan Sumba! JATUH CINTA PAKE BANGET.

Postingan kali ini saya mau cerita pengalaman 5 hari 4 malam di Sumba. Sebenernya postingan ini agak telat sih, karena jalan ke Sumbanya sendiri bulan April kemarin, yang berarti udah empat bulan yang lalu, dan nulisnya baru sempat sekarang. Ya udah lah ya, dari pada gak nulis sama sekali.

Jadi, keinginan ke Sumba itu udah muncul sejak nonton film Pendekar Tongkat Emas beberapa tahun yang lalu, dan semakin kuat setelah nonton film Susah Sinyal dan Marlina.

 

Sejak saat itu saya coba browsing harga tiket ke Sumba dan biaya tripnya. Lumayan ya sis, at least kudu siapin sekitar 7 juta untuk bisa ke Sumba. Lalu di awal tahun ini, saya dapat tugas dari kantor untuk ngembangin industri yang terkait wisata di tempat saya kerja. Diminta bikin sesuatu, apa kek situ, biar nambah revenue dari industri yang terkait wisata. Alhasil, setelah proses semedi di Gunung Gede bareng Wiro Sableng, munculah sebuah ide yang sekalian bisa wujudin bucket list saya ke Sumba!

Yup, lewat program Travel With Tempo akhrinya perjalanan ke Sumba terwujud juga. So, perjalanan kali ini bakal saya sebut sebagai TravelShare, kenapa? karena ga cuma traveling aja, tapi ada program berbaginya. Jadi, melalui program ini, kami mengajak pembaca 5 Tempo untuk ikuran Traveling sambil berbagi di Sumba. Jadi, dalam perjalanan 5 harı 4 malam itu, ada 1 hari di mana se belum melakukan kegiatan traveling, kami mampir ke sebuah SD di Sumba Timur untuk mengajar selama beberapa jam. Untuk cerita soal ini akan saya bagi di postingan terpisah.

Nah, di postingan kali ini saya mau cerita tempat mana aja yang kami kunjungi selama di Sumba, But, before I start to tell you our journey, please check this 3 minutes video :

Mulai kebayang kan gimana serunya perjalanan ke Sumba.

Pagi itu sekitar jam 4 subuh, saya sudah berada di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng. Sebagai orang yang bertanggung jawab pada trip ini, maka saya sebisa mungkin untuk hadir lebih dulu di bandara dibanding peserta lainnya. Gak lupa untuk terus kordinasi sama peserta, crew dokumentasi dan Kadek Arini, one of the most popular influencer di jagat sosial media tanah air, yang saat itu kami kajak ikutan di trip ini juga.

Setelah semua lengkap, dan proses check in kelar, kami nunggu di boarding room, saat itu masih pada malu-malu, maklum lah ya baru pertama kali ketemu. Belum keliatan aslinya gimana. Pesawat yang membawa kami akan take off sekitar jam 6 wib dengan tujuan Denpasar, untuk selanjutnya transit dan lanjut menggunakan pesawat yang berbeda dengan tujuan Tambolaka, dan direncanakan akan mendarat di Tambolaka sekitar jam 11:45 WIT. Alhamdulillah perjalanan lancar, baik dari Jakarta- Bali ataupun Bali – Tambolaka, Ini kali pertama saya naik pesawat baling-baling. Agak deg-degan juga awalnya, tapi karena pada dasarnya saya pelor, maka sepanjang perjalanan saya TIDUR.

 

Hari pertama sampai di Sumba, setelah di antar oleh driver ke hotel untuk menaruh barang-barang, pembagian kamar dan makan siang, kami berencana untuk ke bukit teletubbies, tapi ternyata siang itu hujan deras, padahal sebelumnya kami disambut terik matahari. Well, karena ga memungkinkan akhirnya ganti haluan, langsung ke destinasi berikutnya yaitu Desa Adat Ratenggaro.

 

Di desa ini, ketemu dengan penduduk asli yang mendiami Desa Adat Ratenggaro. Mereka mendiami rumah yang beratap seperti menara. Satu rumah bisa dihuni lebih dari 3 kepala keluarga. Rumah nya sendiri terdiri dari 3 bagian, bagian bawah (kolong rumah untuk tempat tinggal ternak, seperti ayam hingga babi), bagian ke dua untuk tempat tinggal keluarga, terdiri dari ruang atau lebih tepatnya bilik untuk tidur dan juga dapur, bagian paling atas untuk tempat menyimpan bahan makanan.

Penduduk Desa Adat Ratenggaro

Di area sekitar Desa terdapat kuburan megalitikum, yang udah ada sejak ratusan tahun yang lalu, bentuknya bukan seperti pemakaman pada umumnya yang horizontal, tetapi pemakaman ini memiliki bentuk vertikal. Kalau pernah nonton film Marlina Pembunuh dalam Empat Babak, pasti tahu kalau jenazah orang yang sudah meninggal ga dalam posisi tidur, tapi dalam posisi duduk, dengan lutut yang ditekuk, dan kedua tangan memeluk lutut, nah meereka pun dikuburkannya dalam posisi yang kurang lebih seperti itu. Saya sempat bertanya pada raja di kampung adat Praijing, perihal cara menguburkan yang dalam posisi duduk, alasannya karena ketika manusia berada di rahim ibu, posisinya meringkuk sehingga ketika “dikembalikan” juga dalam posisi yang kurang lebih sama.

Salah satu penduduk yang mendiami Desa Adat Ratenggaro

Lalu, bahasa apa yang mereka gunakan? tentunya untuk bahasa sehari-hari mereka menggunakan bahasa daerah Sumba, tapi karena bahasa daerah Sumba jumlahnya juga banyak, maka ada perbedaan antara bahasa yang mereka gunakan dengan yang digunakan oleh guide kami waktu itu, walaupun mereka juga paham sedikit-sedikit bahasa Indonesia. Saran saya kalan pergi ke Desa Adat Ratenggaro lebih baik ditemani oleh penduduk lokal, baik dari Sumba Barat ataupun Sumba Timur, untuk menghindari kesalah pahaman dalam berbahasa. Ohya, di sini kita juga akan ditawarkan dengan sedikit paksa oleh anak-anak atau orang dewasa, berupa kerajinan tangan mereka, dan anak-anak di sini juga gak segan-segan dalam meminta uang. Jadi ada baiknya lebih berhati-hati.

Menumbuk padi, salah satu kegiatan anak-anak di Ratenggaro

 

Setelah dari Desa Adat Ratenggaro, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Bawana, rencananya untuk melihat sunset, tapi berhubung habis hujan, jadi matahari tertutup awan. Jadi, kami harus puas hanya dengan melihat deburan tipis ombak di pantai Bawana.

 

 

Puas berfoto-foto di pantai Bawana, karena hari juga mulai gelap, maka kami kembali ke penginapan, istirahat, dan bersiap memulai perjalanan mengeksplore Sumba di hari kedua.

 

See you on my next post : Sumba hari ke dua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *