Event,  Review

Review : #MesakkeBangsaku

Mumpung masih inget, mumpung masih segar di ingatan, dan yang paling penting mumpung lagi niat, saya mau sedikit mencatat soal Mesakke Bangsaku, 21 Desember lalu. Ini adalah show special ke tiga Pandji yang saya tonton, setelah sebelumnya di 2011 dan 2012 ada Bhineka Tunggal Tawa dan Merdeka Dalam Bercanda. Gak kerasa sudah setahun berlalu dari pertunjukkan di 2012, waktu itu saya mencatat nya di sini, di foto yang saya posting di bagian akhir, tertulis ‘Menanti 2013’, daaaaan tadaaa, ternyata gak lama menunggu 2013. Dan seperti yang sudah saya duga, show nya selalu mengundang decak kagum, tawa yang pecah, standing ovation, serta pembelajaran baru. Pokoknya selalu ada nilai lebih dari sekedar tertawa.

Kegelisahan Pandji akan pendidikan Indonesia dan bagaimana kaum minoritas di perlakukan di negara ini di ungkap secara cerdas dan lucu selama dua jam lima menit. Waktu yang sangat lama untuk seseorang bisa dengan lancar dan sukses membuat hampir 1200 orang yang hadir di Teater Jakarta Taman Ismail Marjuki, tertawa terbahak-bahak, sambil berpikir ‘iya bener juga ya’ dalam waktu yang bersamaan.

Seperti biasa show Pandji (apapun itu) selalu mulai tepat waktu, jam delapan teng!

Dibuka denga penampilan Arief Didu, komika yang jarang di kenal sebagai komika. Untuk itulah mungkin ia dipilih Pandji sebagai opener, karena dari sekian banyak komika, dia yang paling mesakke (kasihan). Gak mesakke gimana coba, lebih sering di telpon untuk di tanya nomor telpon komika lain, padahal sendirinya adalah komika. Ibaratnya si Arief pedagang tahu di pasar yang di datangi ibu-ibu, kemudian di tanya “Bang, pedagang tahu yang sebelah gak jualan?” dan di jawab “Gak bu, kenapa?” ” si ibu pun menjawab “Mau beli tahu bang,” “Lha kan saya jualan tahu juga buuuuuuu,”. Begitu lah kira-kira, Arief meng-analogikan dirinya seperti pedagang tahu yang gak dianggap pedagang tahu :))

Setelah kurang lebih lima belas menit  – kalau saya ga salah – Arief Didu melempar bit-bitnya, yang di balas penonton dengan tawa yang renyah, maka penampilan yang ditunggu-tunggu dari sang empunya acara hadir dengan balutan Jas dan kemeja Hitam, yang dari bangku penonton Diamond terlihat lebih langsing (ini beneran, bukan pereus). Penampilan Pandji di awali dengan terbukanya tirai hitam yang ada di panggung, lalu terlihat lah latar panggung dengan pohon yang mesakke dan satu kursi serta meja yang menemani. Pandji kemudian membuka shownya dengan agak sedikit berani cenderung beresiko, dengan berujar bahwa untuk yang baru pertama kali nonton shownya GUOBLOK, karena udah dua kali bikin show kenapa baru sekarang nonton. Dan saya cuma bisa nyengir, ups! Start yang bagus sebenarnya, karena mungkin akan membuat penonton yang baru kali pertama hadir, akan semakin penasaran seberapa menghibur dan pinternya Pandji sih dalam stand up comedy. Dan bisa jadi bumerang, jika seandainya malam itu Pandji diluar harapan, dengan kata lain misal show nya gak sukes, joke nya basi, delivery serta act outnya gagal. Tapi bukan Pandji namanya, kalau tidak bisa mendelivery materi dengan sangat cerdas. Maka mungkin, ini mungkin lho ya, setelah show malam itu, ketika Pandji berhasil bikin pecah tawa semua yang hadir, penonton yang baru pertama kali datang akan balik berujar ke dirinya sendiri : iya ya goblok ya gue ya, kenapa baru datang sekali ini, kalau tahu show nya sepecah ini.

Setelah puas menggobloki penonton, Pandji memulai melempar bit demi bit, di buka dengan bit tatapan kasih putih Glen Fredly, lalu memaparkan data mengenai golongan minoritas di Indonesia, termasuk di dalamnya golongan pengusaha, keturunan tionghoa, difabel, dan gay (kalau ada yang kurang, maaf, karena saya ga nyatet, cuma berdasar ingatan). Bit yang memorable dan buat saya ketawa kalau mengingatnya adalah bit soal berteman dengan gay, dan gay main voli. Bit soal berteman dengan gay itu buat cewe benar adanya. Berteman dengan gay itu menyenangkan, dan mereka sangat menghibur. Kemampuan Pandji dalam riffing pun tidak perlu di ragukan, selalu berhasil. Penonton yang ada di kursi depan harus selalu waspada, karena bisa jadi korban riffing Pandji. Ga peduli, cowo atau cewe, tua atau muda, straight atau gay.

Bit Pandji favorit saya adalah ketika menjadikan Dipo (anak pertamanya) dan Mba Mila (istrinya) sebagai bahan. Bit soal ngorok dan ngigau, serta bit soal ngajak Dipo sholat Jumat bener-bener bikin ketawa gak berhenti. Selain jago riffing, kemampuan act out Pandji juga luar biasa. Sejauh ini yang saya tahu oke dalam act out adalah Pandji dan Ge Pamungkas (mohon di bantu diingatkan kalau ada yang lainnya). Walaupun jarak dari kursi saya ke panggung cukup jauh, tapi terbantu dengan dua giant screen yang ada di sisi kiri dan kanan panggung, sehingga penampilan act out Pandji terlihat dengan jelas.

Malam itu Pandji menjadikan kegelisahannya terhadap pendidikan sebagai materi yang cerdas sekaligus lucu.

Perhatikan gambar di bawah ini :

Foto dari twitter

Begitulah yang terjadi di negara kita, sistem pendidikan di tentukan oleh standard, dan Pandji membahasnya dengan analogi-analogi yang mampu membuat tertawa dan mengangguk-angguk membenarkan. Selain itu Pandji juga mengungkapkan kenyataan susahnya menjadi beda karena takut dianggap bodoh, padahal mungkin sebenarnya visioner :)) buat yang nonton pasti tahu bit yang mana ini. Bit soal pertanyaan berapa planet yang ada di bumi.

Selain itu, hal yang penting yang juga diungkapkan Pandji adalah soal membedakan fakta dan opini, karena media belakangan suka mencampurkan opini ke dalam muatan beritanya. Terakhir, Pandji melempar materi yang jadi favorit saya (mungkin juga semua penonton malam itu) soal pencurian mesin atm yang gagal. Sumpah ya ini Pandji iseng bener nyari berita soal ini, tapi kalau gak gitu, saya juga gak tau kalau ada yang guoblok nya kebangetan. Udah berhasil bawa mesin atm nya ke rumah, tanpa ketahuan, eh malah ending ceritanya harus di penjara juga, gara-gara tetangganya curiga saat si maling membanting-banting barang yang ada di rumahnya lantaran kesel. Lha napa kesel? soalnya yang doi bawa, mesin atm no tunai. Goublokkkkk :))))

Begitulah kira-kira yang berhasil saya catat dalam memori ingatan saya yang kapasitasnya gak gede ini. Pandji membuktikan, semakin tahun, performanya sebagai stand up comedian semakin menunjukkan kualitas. Tiket termahal 400 ribu pun di beli penonton. Ini pun menjadi rekor saya dalam membeli tiket stand up yang biasanya berkisar di harga seratus ribuan, kini saya harus mengeluarkan tiga ratus tibu untuk menonton sebuah pertunjukkan. Lebih dari pertunjukkan sebenernya, karena sejatinya ini adalah sebuah karya, dan saya menghargai karya-karya nya Pandji. Untuk itu saya puas dengan apa yang saya saksikan malam itu. Sekali lagi saya pulang dengan tawa yang sangat pecah.

Di akhir pertunjukkan, setelah Pandji melempar bit nya yang terkahir, kami semua, penonton yang datang malam itu, memberikan standing ovation buat Pandji. You deserve it mas 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *